Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Pendidikan Anak

Home / Pendidikan / Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Pendidikan Anak

Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Pendidikan Anak

Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Pendidikan Anak – RA Kartini, pemikir visioner, semenjak ratusan tahun lalu melewati surat-suratnya telah meyakinkan anda bahwa edukasi di sekolah tidaklah mungkin lumayan untuk mendidik generasi Indonesia. Kemitraan family dan masyarakat yang dinamis dan sinergi sangat diperlukan dalam pusaran edukasi anak di satuan edukasi atau sekolah.

Sebagai seorang pendidik, saya tidak jarang miris menyaksikan banyaknya orang tua yang belum mengetahui peranan dan tanggung jawab family di sekolah. Mereka tidak jarang lupa bahwa peran family dalam edukasi anak di sekolah seharusnya ialah pendidik yang utama dan partner terbaik sekolah.

Elton Trueblood, seorang pendidik sekaligus pengarang terkenal, pernah berbicara ada satu pemahaman yang mengaku keluarga disusun oleh setiap pribadi yang terdapat di dalamnya, namun ada satu pemahaman yang lebih mendalam yaitu keluargalah yang menyusun setiap pribadi di dalamnya.

Masalah yang sering hadir dalam edukasi anak di sekolah ialah ketika family tidak menyusun anak sebagai pribadi yang siap belajar dan berinteraksi, sampai-sampai sekolah memungut begitu tidak sedikit tanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang pada akhirnya tidak jarang tidak berlangsung begitu efektif sebab keluarga tidak berperan sebagai partner terbaik sekolah.

Keluarga dan anak tidak jarang menjadi sekutu guna melanggar ketentuan ataupun kepandaian sekolah. Sebagai contoh, saat anak ditindak sebab terlambat berulang kali, keluarga membangkang sekolah dan menyalahkan kemacetan sebagai penyebab keterlambatan anak. Solusi terbaik tidak diserahkan supaya anak belajar taat pada aturan yang terdapat untuk menyusun dirinya sebagai pelajar yang disiplin.

Keluarga seharusnya meminta anak berangkat lebih cepat agar tidak ketinggalan latihan bukan membuat dalil untuk mengayomi anak dari konsekuensi yang sudah ditata oleh sekolah. Hal ini membawa akibat yang buruk untuk anak karena dibentengi dan tidak diberi peluang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Di samping itu, alih–alih memberi anak tanggung jawab untuk berdikari di sekolah, keluarga justeru sering mengintervensi terlampau jauh proses belajar melatih anak di sekolah.

Tugas yang diserahkan sekolah untuk anak digarap oleh orang tua sampai-sampai mereka merasa keletihan dan meminta sekolah untuk meminimalisir tugas. Ini memberi pengaruh yang tidak baik untuk anak sebab ketika mereka diharuskan mengerjakan tugas di sekolah, mereka sama sekali tidak punya gagasan untuk mengembangkan tugas tersebut sebab bergantung pada pemikiran orang tua. Hal ini menciptakan anak cepat menyerah dan tidak gigih dalam mengerjakan sesuatu.

Saya teringat mengenai satu gaya pola asuh yang ditemukan oleh Diana Baumrind, the permissive parenting sytle, atau pola asuh memanjakan. Keluarga berjuang memenuhi asa dan keperluan anak disertai dengan aturan-aturan yang paling longgar.

Anak dengan pola asuh yang laksana ini ingin memandang sekolah otoriter bilamana dengan tegas menindak mereka bilamana melakukan pelanggaran. Kesulitan yang beda terjadi saat mereka mesti berinteraksi dengan murid lain yang mempunyai ragam karakter sampai-sampai mereka tidak dapat mengelola konflik dan lantas menarik diri dari komunitas.

Keluarga ialah adalah pendidik terbaik siswa, sebab pendidikan anak kesatu sekali diperoleh dari sana.

Mungkin family dapat merealisasikan the authoritative parenting style yang menurut keterangan dari Diana Baumrind ialah pola asuh yang menyeimbangkan pemenuhan harapan keperluan anak dengan tuntutan dan kendali sampai-sampai akan terbentuk anak yang percaya diri, berprestasi, dapat bekerja sama, sekaligus pantang menyerah.

Jika peran kesatu family ini telah berjalan dengan baik, sekolah dapat konsentrasi kepada pengembangan akademik, keahlian, dan bakat siswa.

Peran yang kedua ialah kemitraan dua arah atau yang dinamakan two way partnership yang bertujuan untuk meluangkan informasi yang diperlukan dari orang tua untuk guru, dan dari guru ke orang tua agar anak menemukan perlakuan yang tepat di sekolah.

Lebih jauh lagi, kemitraan yang di bina ini bakal memberi keuntungan untuk perkembangan karakter siswa sebab dapat belajar rasa hormat, melewati hubungan baik sekolah dan keluarga.

Keuntungan lebih jauh dari two way partnership untuk sekolah menengah ialah siswa bisa mengembangkan potensinya dengan berkompetisi, menemukan beasiswa, dan memilih universitas terbaik.

Ada tidak sedikit siswa yang tidak begitu dapat dalam urusan akademik ternyata memiliki keterampilan olahraga atau seni yang paling baik, sampai-sampai sekolah melibatkan anak dalam persaingan olahraga dan unjuk keterampilan dalam bidang seni budaya.

Siswa yang dapat dalam urusan akademik bakal dipersiapkan guna mengikuti sekian banyak ajang kompetisi yang bakal memudahkannya menemukan beasiswa. Siswa yang beda akan ditunjukkan untuk mempersiapkan diri dan menyaksikan universitas yang tepat cocok dengan keterampilan masing-masing.

Sehingga masing-masing anak akan merasakan setiap pilihan-pilihan hidupnya dan bekerja cocok dengan potensi mereka masing-masing. Dengan kata lain, two way partnership ini bakal memberi deviden pada kedua belah pihak.

Bagaimana dengan peranan masyarakat terhadap edukasi anak di sekolah? Selain menambah mutu pendidikan melewati komite sekolah cocok dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 14, terdapat peran urgen masyarakat dalam edukasi anak di sekolah ialah internship.

Masyarakat akan menolong pendidikan anak di sekolah dengan menjadi lokasi magang. Salah satu sekolah SD di kota saya pernah membawa anak-anak guna belajar memasak di di antara restoran kepunyaan masyarakat sekitar. Kebun bunga kepunyaan masyrakat dijadikan lokasi berkesperimen anak-anak SD. Siswa sekolah menengah menuntaskan social community yang diharuskan sekolah sebagai kriteria kelulusan dengan menjadi guru untuk anak-anak tidak mampu.

Masyarakat menyuruh siswa untuk mencuci lingkungan selama dan masih tidak sedikit contoh praktis lainnya yang dapat dilaksanakan yang menjadikan masyarakat sebagai lokasi magang untuk anak-anak. Keuntungan yang diperoleh oleh anak ialah kesadaran bahwa mereka ialah bagian masyarakat dan bakal kembali mengabdi untuk masyarakat.

Dalam sejumlah dekade saja Indonesia dapat menjadi negara maju bilamana keluarga dan masyarakat menjalankan peran dengan baik dalam edukasi anak di sekolah. Karena tersebut mari anda bergandengan tangan membetulkan kualitas edukasi anak kita. Menjadi kesebelasan yang kompak dalam edukasi anak di sekolah guna menghasilkan generasi yang cerdas, ahli, berbudi luhur, serta generasi yang menyukai masyarakat di mana ia bekerja dan berkarya.

Sumber: PELAJARAN.ID