Mengenal Kerajaan Negara Daha

Home / Pendidikan / Mengenal Kerajaan Negara Daha

Mengenal Kerajaan Negara Daha

Mengenal Kerajaan Negara Daha

Mengenal Kerajaan Negara Daha

Mengenal Kerajaan Negara Daha

Kisah ini bermula

dari kejadian memalukan yang dilakukan oleh Raden Sari Kaburungan yang mengawini ibunya sendiri. Tapi karena dialah yang berhak menjadi raja, akhirnya ia dinobatkan menjadi raja. Setahun kemudian raja memindahkan kedudukan negara ke Muara Hulak. Kedudukan baru itu disebut Negara Daha dan sampai sekarang ini tempat itu masih bernama Negara (Sebuah daerah di Kab. HSS Kalsel). Di Muara Bahan dibuat sebuah pangkalan (pelabuhan) yang kemudian ramai sekali didatangi para pedagang.

Maharaja Sari Kaburungan

itupun tetap mengikuti adat, tatakrama Kerajaan Majapahit dan menerima segala menterinya tiap hari Sabtu di Sitilohor. Tidak beberapa lama kemudian menghilanglah secara gaib Putri Kalungsu yang tinggal di Negara Dipa bersama lima ratus orang pengiringnya. Dalam waktu itu pula Lembu Mangkurat meninggal dunia (Berakhirlah kisah-kisah raja Nagara Dipa). Sebagai Mangkubumi diangkatlah putera Arya Megatsari yang bernama Arya Taranggana oleh Maharaja Sari Kaburungan, dia adalah seorang yang sangat cerdik lagi bijaksana. Aria Taranggana ini mengarang “Kutara Masaalah Tahta Nagri” yang membicarakan peraturan dan hukuman bagi orang yang benar dan salah, yang berat dan ringan, yang mati dan yang tidak, yang dirampas dan kesesuaian hukumannya yang sekarang dikenal dengan nama Kutara Aria Taranggana.

Maharaja Sari Kaburungan memerintah

sama seperti zaman Maharaja Suryanata. Semua pejabat yang diganti berasal dari keturunan pejabat itu. Tahta negeri Nagara Daha mengikuti tahta negeri Majapahit. Maharaja Sari Kaburungan dan istrinya anak menteri mempunyai anak pertama bernama Raden Sukarama dan yang kedua bernama Raden Bengawan. Tidak beberapa lama kemudian Raja Raden Sari Kaburungan dan Istrinya hilang secara gaib, tahta kerajaan diturunkan kepada Maha Raja Sukarama.

Maharaja Sukarama berpesan kepada ketiga anaknya agar kelak yang berhak menjadi raja adalah cucunya Raden Samudera bukan mereka. Hal itu membuat hati Pangeran Tumanggung gusar dan marah, karena yang menurutnya pantas menjadi raja adalah kakaknya Pangeran Mangkubumi sebagai anak tertua ayahnya, bukan langsung menunjuk (turun) ke cucu. Patih Aria Taranggana menyelamatkan Raden Samudera dengan cara menghanyutkannya. Hal ini secara implisit berimplikasi bahwa Maharaja Sukarama menginginkan agar sepeninggalnya nanti tidak terjadi peristiwa perang saudara karena perebutan kekuasaan antara ketiga anaknya itu.

Sepeninggal ayahnya

Maharaja Sukarama meninggal, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi raja akan tetapi mahkota yang akan digunakannya dalam penobatan tidak sesuai di kepalanya. Begitupun juga ketika Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung mencobanya. Sama seperti benda pusaka kerajaan tidak dapat dibunyikan karena mereka melanggar amanat ayahnya. Kepindahan Pangeran Bagalung ke Marabahan untuk menetap di sana sampai masa meninggalnya.

Setelah sekian lama memerintah ahkhirnya terjadi salah paham antara Maharaja Mangkubumi dengan Pangeran Tumanggung tentang masalah perzinahan si Saban dengan si Harum. Atas hasutan Pangeran Tumanggung maka si saban mau membunuh Maharaja Mangkubumi dengan keris Malila.Namun setelah si Saban selesai melakukan pembunuhan, justru si Saban sendiri yang dibunuh oleh Pangeran Tumanggung. Akhirnya Pangeran Tumanggung diangkat menjadi raja, akan tetapi ketika pelaksanaan penobatannya mahkotanya tidak dapat dipakai, dan benda-benda pusaka istana tidak dapat digunakan (dibunyikan).

Cerita kemudian beralih tentang pencarian dan pertemuan Raden Samudera oleh Patih Masih dan anak buahnya setelah mendengar kabar Raden Samudera akan dibunuh oleh Pangeran Tumanggung. Keinginan para Patih untuk menjadikan Raden Samudera sebagai raja. Pada mulanya Raden Samudera menolak menjadi raja, akan tetapi setelah didesak dan dibuat mabuk, Raden Samudera pun akhirnya bersedia menjadi raja.

Pangeran Samudera yang baru

diangkat menjadi raja kemudian memerintahkan bawahannya untuk merebut Muara Bahan. Akhirnya Pangeran Samudera dan pengikutnya berhasil merebut Muara Bahan tanpa ada perlawanan. Lalu Pangeran Samudera memulai membangun istana di Banjarmasih. Kemudian ia membentuk sistem pemerintahan seperti yang pernah dilakukan Ampu Jatmaka ketika mendirikan Nagara Dipa. Penobatan Pangeran Samudera sebagai raja Banjarmasih dan kesiapan mereka melawan serangan Pangeran Tumanggung dan bala tentaranya.

Setelah mendengar bandar Muara Bahan direbut oleh kemenakannya, Pangeran Samudera. Pangeran Tumanggungpun segera mengumpulkan bala tentara untuk menyerang kerajaan Bandarmasih. Pertempuranpun terjadi begitu dahsyat. Akhirnya pasukan Pangeran Tumanggung dapat dipukul mundur. Pangeran Samudera minta bantuan Sultan Demak setelah meminta saran Patih Masih.

Cerita selanjutnya tentang kebesaran kerajaan Majapahit di masa pemerintahan raja Tunggul Amatung dan

Patih Gajah Mada. Tunggul Amatung kemudian melamar dan mengawini Putri Pasai. Akhirnya Putri Pasaipun hamil dan melahirkan anak lelaki. Pada saat itulah saudara putri, Raja Bungsu datang ke Majapahit dan iapun bersedia tinggal di sana. Raja Bungsu meminta kepada raja Majapahit sebidang tanah untuk tempat berdiam dan membuat langgar. Raja Majapahitpun mengabulkan permintaannya. Setelah ia diam di sana maka banyaklah orang-orang desa yang ingin masuk islam. Raja Bungsu sekali lagi minta izin kepada raja untuk mengislamkan mereka. Permintaannya inipun dikabulkan oleh raja. Akhirnya dimulailah pengislaman desa-desa di sekitar tempat tinggalnya.

Diceritakan pula tentang masuk Islamnya menteri desa bernama petinggi Jipang dan anak, istri, serta keluarganya karena melihat kealiman Raja Bungsu. Petinggi Jipangpun akhirnya jadi penghulu sekaligus orang alim. Di samping cerita keluarga raja Majapahit hingga meninggalnya.

Tersebutlah kisah tentang Juragan Balaba, suruhan Nyai Suta Pinatih dalam perjalanannya mengantar barang dari Gresik menuju ke Bali ditengah laut Blambangan, menemukan tabla yang berisi bayi. Iapun akhirnya kembali menemui dan mengantar bayi itu kepada Nyai Suta Pinatih. Nyai Suta Pinatihpun sangat senang menerima bayi itu. Bayi itupun lalu diangkatnya anak. Nyai Suta Pinatihpun akhirnya kaya raya berkat tuah anak itu.

Diceritakan juga mengenai sebab-sebab keruntuhan kerajaan Majapahit, dimulainya pengislaman pulau Jawa, dan berdirinya kerajaan Demak serta asal mula wali Allah di Jawa. Pangeran Samudera meminta bantuan kepada Sultan Demak agar membantu peperangan melawan Pangeran Tumanggung melalui utusannya Patih Balit. Sultan Demak mau membantu asalkan Pangeran Samudera mau masuk islam. Pangeran Samudera dan keempat Patihnya pun bersedia masuk Islam. Kembali Patih Balit diutus ke Jawa untuk memberi tahu Sultan dengan tentang kesepakatannya itu. Sepulang dari Demak Patih Balit membawa tentara Demak sebanyak seribu orang lengkap dengan senjatanya dan seorang penghulu untuk mengislamkan mereka.

Akhirnya setelah berperang selama empat puluh hari tidak yang menang dan korban yang banyak berjatuhan, bunuh-membunuh antarkeluarga. Pasukan Pangeran Tumanggung banyak yang mati. Patih Aria Tarangganapun memberi usul agar peperangan dilakukan satu lawan satu antara Pangeran Tumanggung dan Pangeran Samudera, dan ia sendiri melawan Patih Masih.

Setelah berhadapan satu lawan satu. Pangeran Samudera tidak ingin ia menjadi durhaka karena menyerang pamannya Pangeran Tumanggung. Ia rela dibunuh pamannya. Mendengar hal itu menangislah Pangeran Tumanggung seraya memeluk kemenakannya itu. Perdamaian pun terjadilah.

Setelah berhasil berdamai dengan Pangeran Tumanggung, Pangeran Samudera pun menjadi raja Banjarmasih dan masuk Islam dengan penghulu Demak. Kemudian pasukan Demak dan penghulu Demak pulang diikuti oleh pasukan taklukkan Maharaja Suryanata dan Maharaja Sukarama. Aria Taranggana menjadi Patih kerajaan Banjarmasih. Sedangkan empat patih lainnya yaitu Patih Balit, Balitung, Kuwin dan Muhur diangkat menjadi jaksa.

Diceritakan pula tentang silsilah keturunan Sultan Suryanullah sepeninggalnya mangkat. Pemerintahan dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Rahmatullah. Setelah beliau wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh anaknya, Sultan Hidayatullah. Pada masa ini Patih Aria Taranggana wafat dan digantikan Kyai Anggadipa. Patih-patih yang lainpun menyusul wafat.

Sultan Marhum Panambahan kemudian menyuruh Raden Rangga Kasuma membawa semua orang suku Biaju untuk membunuh anak dan kemenakan Kyai di Podok. Si Sarang dan pengikutnya sepuluh orang masuk islam. Setelah masuk islam si Sarang dikawinkan Marhum Panambahan dengan Gusti Nurasa dan memperoleh seorang anak lelaki bernama Adan Jumaat. Oleh Marhum Panambahan ia diberi gelar Nanang Sarang.

Marhum Panambahan dan istrinya Ratu Agung sangat mengasihi Raden Rangga Kasuma. Akan tetapi ada saudara Ratu yang iri dengki kepadanya. Keberhasilan siasat licik pangeran Mangkunagara memfitnah Raden Rangga Kasuma hingga akhirnya ia dijatuhi hukuman mati oleh Marhum Panambahan sendiri. Marhum Panambahan berusaha menghibur diri dengan bercengkrama dan melunta di Serapat dan Aluh-Aluh serta tetap menjalankan roda pemerintahan seperti biasa.

Diceritakan bahwa Marhum Panambahan berniat memindahkan kerajaan Banjarmasih ke batang Mangapan karena adanya kekhawatiran, sepeninggalnya nanti Banjarmasih akan hancur karena banyak orang yang ingin menguasai daerah ini. Akhirnya kerajaanpun dipindahkan karena serangan Belanda. (Awal masuknya Belanda ke Kalsel).

Mulai terjalinnya hubungan kerajaan Banjar di Batang Banyu dengan negeri Pasir melalui sarana perkawinan dan terdapatnya silsilah keturunan Marhum Panambahan serta terjadinya kasus pencurian di Martapura oleh orang Sukadana. Kejadian itu membuat Marhum Panambahan memberikan upeti dari Sukadana kepada si Dayang Gilang dan tidak lagi diserahkan ke Banjarmasih. Marhum Panambahan juga menyerahkan urusan Kota Waringin kepada Dipati Ngganding.

Diceritakan silsilah keturunan Marhum Panambahan dari pihak cucu. Terjalinnya hubungan kekeluargaan antara Pasir dan Banjar ketika Raden Arya Mandalika dari Pasir kawin dengan Gusti Limbuk dari Banjar. Sejak itu Pasir tidak lagi mengantar upeti ke Banjar. Pada saat Kyai Martasura pergi ke Makasar, rajanya, Karaing Patigaloang memintanya agar menyampaikan pesan kepada Marhum Panambahan untuk meminjamkan Pasir kepadanya untuk berdagang dengan sumpah jika ada orang Makasar yang berbuat aniaya terhadap Banjar, mudah-mudahan dibinasakan oleh Allah. Marhum Panambahan pun setuju meminjamkan Pasir. Sejak itu Pasir dan daerah-daerah di sekitarnya tidak membayar upeti ke Banjar. Marhum Panambahan akhirnya melarang raja Sambas untuk mengantar upeti ke negeri Banjar kecuali jika Marhum Panambahan sendiri menghendakinya.

Diceritakan pula silsilah keturunan Marhum Panambahan dari perkawinan pihak cucu. Kerajaan Banjar berkabung karena keluarga dan kerabat keluarga secara bergantian meninggal dunia.
Marhum Panambahan mengirim utusannya ke Mataram untuk menjalin persahabatan dengan berbagai persembahan. Sepulangnya para utusan itu yaitu Pangeran Dipati Tapasana, Kyai Tumanggung Raksanagara, dan Kyai Narangbaya, selain diberi bingkisan oleh raja Mataram, mereka juga dihadiahi gundik oleh Marhum Panambahan.

Sepeninggal Marhum Panambahan lalu wafat maka penggantinya adalah Pangeran Dipati Tuha. Ia dilantik dengan gelar sultan Hinayatullah atau Ratu Agung. Marhum Panambahan meninggalkan banyak buyut. Ratu Agung Memberi gelar kebangsawanan kepada raja-raja di bawahnya.

Cerita keberangkatan Ratu Kota Waringin untuk memerintah daerah Kota Waringin dan sekitarnya hingga ia harus kembali ke Banjar karena Ratu Agung meninggal dan harus segera ada penggantinya. Pangeran Kasuma Alam dilantik menjadi raja dengan segala kebesaran istana. Ia bergelar Sultan Saidullah atau Ratu Anom.

Ratu Kota Waringin memperjelas kedudukan raja sebagai kepala negara yang langsung dipegang oleh Ratu Anom dan kedudukan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan yang langsung dipegang Pangeran di-Darat sebagai Panambahan di-Darat.

Panambahan di-Darat meninggal dunia dan digantikan Ratu Kota Waringin yang bergelar Ratu Bagawan. Kedua orang kepala pemerintahan itu memerintah selama lima tahun. Akhirnya Ratu Bagawan pun mengundurkan diri.

Ratu Anom meminta persetujuan bawahannya untuk menjadikan Dipati Tapasana sebagai kepala pemerintahan. Merekapun setuju mengangkatnya menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Dipati Mangkubumi.

Kehidupan keluarga Ratu Anom hingga dirinya meninggal dunia. Setelah terlebih dahulu Ratu Bagawan meninggal. Atas saran Ratu Hayu dan pembesar istana lainnya maka Raden Halit (Pangeran Mangkubumi) dilantik menjadi raja menggantikan Ratu Anom yang wafat dengan gelar Sultan Riayatullah atau Pangeran Ratu.

Pangeran Mas Dipati menjadi kepala pemerintahan. Terjadinya perkawinan antara Raden Subangsa dengan Mas Surabaya, anak raja Silaparang dan memperoleh anak bernama Raden Mataram. Raden Mataram yang piatu ini kawin dengan Mas Panghulu, anak raja Silaparang juga yang tinggal di Sumbawa dan beroleh anak bernama Raden Bantan.

Setelah memperbaiki perahunya, Pangeran Dipati Anom menyuruh Raden Panjang Jiwa dan Kyai Sutajaya untuk minta bantuan Biaju menyerang Banjar karena Pangeran Ratu hendak menyerahkan kerajaan kepada Raden Bagus. Hingga terjadi perbedaan pendapat dan pandangan dalam menyikapi keinginan Pangeran Dipati Anom yang ingin secepatnya menghendaki pemindahan kekuasaan dari Pangeran Ratu kepada Raden Bagus. Silsilah keturunan raja-raja Kota Waringin itu berasal dari kerabat raja Banjar sejak raja Marhum Panambahan hingga Ratu Agung (Pangeran Dipati Tuha/Sultan Hinayatullah).

 

(Sumber: https://www.diigo.com/item/note/4x55f/236y?k=a8f7b64659590e3252e72c05848f1d50)