Kasus SMP Gresik: Mengapa Belakangan Banyak Siswa Tantang Guru

Home / Pendidikan / Kasus SMP Gresik: Mengapa Belakangan Banyak Siswa Tantang Guru

Kasus SMP Gresik: Mengapa Belakangan Banyak Siswa Tantang Guru

Kasus SMP Gresik: Mengapa Belakangan Banyak Siswa Tantang Guru

Kasus SMP Gresik Mengapa Belakangan Banyak Siswa Tantang Guru

Kasus SMP Gresik Mengapa Belakangan Banyak Siswa Tantang Guru

Pada Oktober 2018, seorang siswa SMAN 7 Kendari, mengancam gurunya dengan keris karena kesal dituduh merusak sebuah motor di sekolah. Sementara pada Februari 2018, seorang guru SMAN 1 Torjun, Sampang, tewas setelah dipukul di pelipis oleh muridnya yang tidak terima ditegur.

Dan pada Senin (11/02) ramai diberitakan seorang petugas kebersihan di SMPN 2 Takalar,

Sulawesi Selatan, dikeroyok sekitar empat orang siswa. Pengeroyokan terjadi karena salah seorang siswa tidak terima dipukul si petugas kebersihan, yang sebelumnya diejek oleh siswa tersebut.
Ilustrasi. Ancaman dan kekerasan pada guru belakangan kerap terjadi di Indonesia.
Ilustrasi. Ancaman dan kekerasan pada guru belakangan kerap terjadi di Indonesia.

Psikolog dan salah satu komisioner Komnas Anak, Elizabeth Santosa, atau yang akrab dipanggil Lizzie, kepada VOA Indonesia mengungkapkan semakin seringnya kekerasan pada guru atau petugas di sekolah, karena semakin sadarnya anak-anak akan berbagai “hak-hak individunya”.

Munculnya kesadaran akan hak, yang disebut Lizzie mulai marak sejak akhir 1990an ini, salah satunya disulut akan kemajuan teknologi sehingga informasi gampang diakses anak.

“Saya di Jakarta, (dulu) saya dipukul sama guru, tidak ada yang bisa saya dilakukan. Gak bisa lapor. Tapi sekarang, anak kesenggol sedikit, guru bisa dilaporin. Ini karena mereka sudah sadar kalau setiap orang punya hak,” kata Lizzie.

Perubahan paradigma didikan orang tua diduga sebagai salah satu penyebab.

Perubahan paradigma didikan orang tua diduga sebagai salah satu penyebab.

Hal ini ditambah dengan berubahnya paradigma didikan orang tua, yang juga karena pengaruh berbagai macam informasi yang diterima. “Contohnya, orang tua berpikir anak itu tidak boleh dipukul, tidak boleh dikerasin. Kalau dipukul, anak bakal trauma. Jadi, sekarang orang tua jadi terlalu protektif.”

Alhasil, berdasarkan pengamatan Lizzie, guru-guru saat ini ‘cenderung khawatir’ untuk bertindak tegas pada murid. “Semua guru ketakutan karena takut dituntut balik.”
/**/ /**/ /**/ Ribuan pelajar melakukan aksi unjuk rasa menuntut kebijakan iklim lebih baik, di Den Haag, Belanda Kamis (7/2).
BACA JUGA:

Ribuan Pelajar Belanda Tuntut Kebijakan Iklim Belanda yang Lebih Baik

Kasus di SMP PGRI, Wringianom, Gresik, Jawa Timur, mencuat karena viralnya sebuah video berdurasi sekitar satu menit. Di video itu, seorang guru honorer, Nur Khalim, yang menegur seorang siswa karena merokok di kelas, ditantang balik oleh siswa tersebut.

Murid yang mengenakan seragam pramuka itu, memegang kerah Nur Khalim, sambil memposisikan tangan seperti hendak memukul si guru.

Guru diminta introspeksi?

Berbeda dengan Lizzie, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, melihat bahwa guru berperan dalam kasus seperti ini, sehingga diminta ‘introspeksi diri’.

“Bagaimana dia bisa tampil berwibawa, disegani oleh siswa. Karena guru itu juga teladan. Contoh, kalau guru sudah diinjak oleh anak seperti itu, bagaimana dia bisa menjadi contoh siswa-siswanya,” paparnya kepada wartawan di Jakarta.

Muhadjir juga menekankan guru berkewajiban “menjamin bahwa anak-anak yang memiliki perilaku khusus seperti itu harus ditangani dengan baik.”

 

Baca Juga :