HUKUM HUMANITER STUDI KASUS PERALATAN MILITER PERANG VIETNAM

Home / Pendidikan / HUKUM HUMANITER STUDI KASUS PERALATAN MILITER PERANG VIETNAM

HUKUM HUMANITER STUDI KASUS PERALATAN MILITER PERANG VIETNAM

HUKUM HUMANITER STUDI KASUS PERALATAN MILITER PERANG VIETNAM

HUKUM HUMANITER STUDI KASUS PERALATAN MILITER PERANG VIETNAM

HUKUM HUMANITER STUDI KASUS PERALATAN MILITER PERANG VIETNAM

Perang Vietnam berlangsung selama sembilan tahun (2 Agustus 1964 – 27 Januari 1973) terlama dalam sejarah peperangan modern yang melibatkan dua kubu dunia yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Adapun sekutu Vietnam Utara yaitu Barisan Pembebasan Vietnam Selatan (Vietcong), Uni Soviet dan China. Sementara Vietnam Selatan dibantu Amerika Serikat, Australia, New Zealand dan Korea Selatan. Sekutu Vietnam Selatan mengirim tentara bantuan untuk bertempur di Vietnam. Keterlibatan tentara Amerika Serikat sebenarnya bermula sejak tahun 1959, tetapi jumlah tentara yang terlibat amat kecil. Tentara Amerika dikirim dalam jumlah yang besar ke Vietnam Selatan mulai tahun 1965 dan baru ditarik kembali sepenuhnya pada tahun 1973

Akar masalah perang Vietnam bermula dari upaya Presiden Vietnam Utara pertama Ho Chi Minh (September 1945-September 1969) membentuk gerilyawan bernama Vietminh. Tugasnya memerdekakan bangsa Vietnam dari Perancis. Namun ditengah jalan, Amerika campur tangan dengan dalih melindungi Vietnam Selatan dari serangan komunis Vietnam Utara, Viet Cong, yang melakukan penyusupan ke wilayah selatan. Perang ini melibatkan banyak senjata militer yang digunakan oleh kedua belah pihak untuk saling menjatuhkan.

Makalah ini membahas tentang peralatan militer yang digunakan semasa perang Vietnam berlangsung. Serta tinjauannya dari sudut pandang hukum humaniter internasional. 

Peralatan Militer Perang Vietnam

Berbagai jenis senjata digunakan semasa Perang Vietnam. Dekade 1960-an merupakan dekade lonjakan teknologi persenjataan. Vietnam menjadi medan uji senjata dan taktik baru peperangan. Helikopter menjadi satu ikon di Vietnam dan mengakibatkan pengaturan tentara dengan cepat. Radar elektronik digunakan di semua medan untuk mendeteksi pergerakan musuh. Pemrosesan data kecepatan tinggi menjadikan penyampaian data yang cepat, khususnya kerja-kerja intelijen di Laluan Ho Chi Minh

Perang Vietnam berawal dari penyerangan kapal-kapal patroli Vietnam Utara, P-4 Torpedo, terhadap kapal perusak Amerika USS Maddox di Teluk Tonkin, 2 Agustus 1964. Maddox disinyalir Viet Cong melakukan misi penyadapan komunikasi terhadap jaringan radio militer Hanoi. Presiden Lyndon B. Johnson segera memerintahkan menteri pertahanan Robert S. McNamara secepatnya melakukan balasan. Tiga hari kemudian, kapal induk Ticonderoga meluncurkan 34 pesawat seperti 16 F-8E Crusader dari skadron VF-53. Sepuluh torpedo Viet Cong berhasil dibabat roket Zuni Crusader, 60 mil sebelah utara. Sementara 21 lainnya rusak. Penyerangan udara diteruskan Amerika, dibantu A-4 Skyhawk. Vietnam Utara melakukan bukan tanpa perlawanan. Dua pesawat Amerika berhasil dijatuhkan roket SAM. Sejak itu Vietnam Utara mendatangkan MiG-17 dari Uni Soviet.

Keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam adalah yang paling lama dan paling tidak populer dalam sejarah Amerika. Mungkin terjadi disamping karena medan Vietnam bukanlah area terbuka, Amerika malah mengerahkan jet-jet tempur dan pembom beratnya, ketimbang pesawat berbaling-baling yang bisa terbang pelan dan rendah sehingga dapat menjejak gerak Viet Cong yang membawa roket-roket SAM.

Pesawat COIN (counter insurgency) memang diturunkan seperti OV-10 Bronco, T-28D Trojan, A-1 Skyraider dan heli gunship. Selebihnya, Amerika menurunkan mulai dari pesawat pendukung C-130 Hercules, fighter, hingga pembom. Pesawat-pesawat ini diantaranya F-100 Super Sabre, RF-101C Voodoo, F-105D Thunderchief, F-4C, F-8E Crusader, B-26, B-57B Canberra dan, B-52 Stratofortress. Bahkan jagoan PD II, P-51 pun masih dilibatkan.

AU AS menggelar Operasi Rolling Thunder, 2 Maret 1965 dengan tiga misi, menyapu infiltran Viet Cong di Vietnam Selatan, membangkitkan moril Vietnam Selatan, dan provokasi terhadap Hanoi bahwa infiltrasi akan mengundang bahaya besar. Namun Hanoi tak bergeming. AU AS menerbangkan 150 pesawat B-57, F-100D, dan F-105D dari pangkalan Thailand untuk merangsek depot amunisi di Xong Bong, 35 kilometer dari demiliterized zone. Serbuan ini menimbulkan kerusakan hebat.

Lagi-lagi gerilyawan Viet Cong menang. Lima pesawat (dua F-100D, tiga F-105D) disengat artileri anti pesawat kanon 37 mm. Seorang kapten pilot AU AS, Hayden J. Lockhart tertawan Viet Cong. Tak lama berselang, AS menggelar Operasi Linebacker – Operasi yang berlangsung dari bulan Mei-Oktober 1972 ini, populer karena kemenangan dog-fight pesawat-pesawat Amerika atas MiG lawan. Sebutlah jatuhnya sebuah MiG-17 oleh F-4D Phantom yang diawaki Mayor Baron Crews dan Kapten Keith Jones. Kemenangan juga diraih Mayor Robert Lodge atas MiG-21. Hari ketiga Operasi Linebacker (10 Mei 1972), merupakan hari terbesar kemenangan duel udara. Sebelas MiG-21 dijatuhkan Lt(Jg) Curtis Dose (anak Bob Dose, skipper pada PD II) dan Letnan Austin Hawkins dengan F-4J Phantom dan VF-92.

Melihat keberhasilan ini, operasi dikembangkan menjadi Linebacker II (18-29 Desember 1972). Sering disebut pertempuran sebelas hari (istirahat saat Natal). Operasi ini bisa dibilang miliknya pembom B-52 Stratofortress. Gelombang serangan B-52 menyerbu sasaran di Hanoi-Haipong. Sera-ngan dimulai dari Anderson AFB di Guam, dan dari U-Tapao Royal Thailand AFB. Disinilah terbukti ampuhnya rudal anti pesawat. Rudal SAM yang digunakan Vietnam Utara, merontokkan 15 B-52 Strato-fortress. Perang Vietnam akhirnya dihentikan lewat perjanjian penghentian perang yang ditandatangani di Paris, 28 Januari 1973. Salah satu isinya, mengembalikan kemer-dekaan kepada Vietnam.

Beberapa persenjataan yang di gunakan Amerika Serikat dalam perang ini, yaitu:

 

• Senapan M-16
Senjata M-16 diperkenalkan sewaktu awal terlibatnya Amerika dalam Perang Vietnam, menggantikan senapan M-14 yang digunakan sebelumnya. M-16 lebih ringan daripada senjata M-14 dan Ak-47 dan menggunakan kaliber 5.56mm. Anggota tentara boleh membawa lebih banyak peluru pada berat yang sama. M-16 mempunyai daya tembakan 550 tembakan per minit dan boleh digunakan secara automatik di mana isi kelopak peluru dengan isian 30 butir boleh dikosongkan dengan sekali saja menarik picu.
• Peluncur Granat M79
Peluncur granat M79 memberikan pasukan infantri kekuatan tembakan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. M79 membolehkan pasukan infantri melontar granat 40mm sejauh 375 meter dan boleh melontar granat asap ataupun ledak
 M72 LAW
M72 LAW pula merupakan sistem senjata pakai buang menggunakan roket 66mm yang boleh digunakan melawan tank ringan ataupun benteng musuh. Walaupun hanya 2.3 kg, senjata ini efektif sehingga jarak 200 meter.
• Pelunuar Granat Mk 19
Senjata ini mulanya digunakan oleh patroli sungai AL Amerika (dikenali sebagai Pibber) dan mampu melontarkan granat 40mm dari jarak minimum 75 meter sehingga jarak maksimum 2,200 meter walaupun hal itu paling berkesan hingga jarak 1,600 meter.
• Helikopter Huey
Helikopter jenis Huey (berasal dari HU-1) mencapai kematangan sebagai sistem persenjataan semasa bertugas di Vietnam. Helikopter in kecil, terbang cepat dan mampu terbang rendah serta mampu diubah menjadi beberapa konfigurasi sesuai keperluan keadaan.
• Helikopter CH-47 Chinook
Pada tahun 1966, AD Amerika diarahkan menyerah kesemua pesawat pengangkut C-7 Caribou kepada AU Amerika. Dengan penyerahan ini, AD kehilangan keupayaan pengangkutan taktikal. Helikopter pengangkut CH-47 Chinook diperkenalkan dalam tahun 1966 dan membawa dimensi baru ke medan tempur. Dengan menggunakan helikopter ini, peralatan berat boleh dibawa di semua pelosok medan tempur.
• Pesawat “Gunship”
# AC-47 Spooky
Pada Perang Vietnam, AU Amerika memodifikasi pesawat C-47 Skytrain sebagai platform senjata. Pesawat ini dipasangi 3 pucuk minigun GAU-17 yang mampu menembak peluru 7.62mm dengan perhitungan 2,000 hingga 4,000 butir peluru per menit. Pesawat ini juga dipasangkan 48 butir lampu suar Mk 24 menjadikan pesawat ini mampu menerangi kawasan sasaran untuk membuat serangan. AC-47 Spooky amat membantu pasukan tentara yang sedang bertempur (troops in contact). AC-47 Spooky lebih dikenal dengan nama “Puff The Magic Dragon” sesuai lagu yang sedang populer ketika itu.
# AC-130 Spectre
Melihat keberhasilan AC-47 Spooky, AU Amerika menginginkan kombinasi persenjataan yang lebih berat dengan kerangka yang lebih besar agar pesawat mampu bermanuver lama di kawasan pertempuran. Lebih dari 10,000 truk dimusnahkan di sepanjang Laluan Ho Chi Minh. Pesawat AC-130 Spectre dilengkapi dengan 4 laras minigun GAU-17, dan 4 laras meriam. Pesawat ini juga mempunyai lampu identifikasi dan radar infra merah.

# A1 Skyraider
Pesawat ini digunakan sebagai pesawat pengiring helikopter penyelamat, dan untuk dukungan udara dekat (close air support) bagi unit-unit tentara darat yang memerlukan bantuan. Pesawat ini diciptakan oleh Ed Heinemann, dari perusahaan Douglas Aircraft. A1D Skyraider adalah sebuah pesawat terbang yang tangguh, mampu membawa muatan perang yang banyak dan mampu bermanuver berjam-jam di atas kawasan operasi untuk menunggu panggilan dari pasukan yang memerlukan bantuan.
# Napalm
Walaupun telah digunakan semenjak tahun 1944, penggunaan bom napalm secara meluas di Vietnam membuka mata dunia kepada kekejaman pengguna senjata ini. Dibuat dari mineral asid naphthenic dan palmitic, campuran ini menjadi sejenis gel yang melekat. Apabila diaktifkan, ia membakar pada keadaan 800 derajat celsius. Napalm juga menghilangkan oksigen dari udara dan mengeluarkan carbon monosida dengan jumlah yang banyak. Bom napalm digunakan untuk mewujudkan kawasan untuk pendaratan helicopter secara langsung dan tiba-tiba.
# Med-evac
UH-1 Huey juga terkenal karena kegunaannya sebagai helikopter “Med-evac” yang digunakan untuk mengeluarkan anggota yang cedera dari medan tempur dan menerbangkan mereka ke medan pusat medis. Ini mengurangi angka kematian pasukan yang cedera di medan pertempuran secara drastis. 97% tentera cedera yang dikeluarkan dari medan tempur ke medan medis berhasil hidup. 390,000 anggota tentara yang cedera dikeluarkan dari medan tempur dengan helikopter.
# APC M113
Kendaraan lapis baja ini digunakan dalam jumlah yang besar semasa perang Vietnam oleh tentara Amerika dan juga oleh ARVN. Kenderaan ini ringan dan mampu diangkat dengan kapal terbang C-130 Hercules. Ia dilengkapkan dengan senapan mesin 12.7 mm M2.
# Cadillac Gage V-100 Commando
Kendaraan lapis baja ini digunakan untuk mengiringi konvoi kendaraan bekalan dan untuk tugas mengawal keselamatan setempat. Kenderaan ini mempunyai pacuan 4 roda dan mempunyai keupayaan amphibi. Serta mempunyai kelajuan darat hingga 62 bsj dan kelajuan 3 bsj di dalam air. Lapis bajanya mampu menahan peluru sehingga 7.62 x 51 mm.
# Pasukan Khusus
Pasukan Khusus seperti Green Berets dan Navy Seals beroperasi dalam perlaksanaan peperangan non konvensional di Vietnam. Amerika sangat puas dengan pencapaian oleh pasukan Special Air Service Regiment dari Australia dan New Zealand. Pasukan SAS Australia.
• Peluru Kendali
Angkatan udara semula menggunakan peluru kendali semasa perang Vietnam. Jembatan di Thanh Hoa sebelumnya diserang berkali-kali tetapi tidak dapat dimusnahkan. Pada 27 April 1972, 8 pesawat penyerang di mana 2 pesawat masing-masing membawa 2 misil Walleye II dan 2 pesawat lain masing-masing membawa 2 bom berkendali laser memusnahkan jembatan tersebut.
 Agen Orange
Amerika menggunakan racun herba (toksin) semasa Perang Vietnam untuk menyebabkan pohon-pohon hutan menggugurkan daun agar dapat menghalau pergerakan Viet Cong dan tentera PAVN, juga untuk memusnahkan sumber makanan pihak musuh. Peptisida disemburkan dari pesawat udara (biasanya pesawat C-123 Provider) yang terbang rendah sangat berbahaya, walaupun dalam jumlah yang kecil. Hampir 50 juta liter Agen Orange yang mengandung 170 kilogram dioxin disembur sepanjang Perang Vietnam.

Tinjauan Hukum Humaniter

Hukum Humaniter Internasional membatasi hak pihak-pihak yang terlibat konflik dalam hal pemilihan alat dan cara berperang. Hal ini dilakukan atas dasar kemanusiaan. Hal yang tidak kalah penting untuk disoroti adalah bagaimana hukum humaniter mengatur penggunaan peralatan militer yang amat berperan dalam perang Vietnam.

Bagian III dari protocol I mengatur soal cara dan alat berperang, soal kombatan dan tawanan perang. Pasal 35 memuat peraturan dasar. Di dalam pasal tersebut dicantumkan tiga ketentuan, yaitu sebagai berikut.
a. Dalam setiap konflik bersenjata, hak dari pihak-pihak dalam konflik untuk memilih atau menentukan cara atau alat berperang dibatasi (ketentuan ini terdapat juga dalam pasal 22 Hague Regulations).
b. Dilarang menggunakan senjata proyektil material dan metoda berperang yang menimbulkan luka-luka yang berlebihan dan penderitaan yang tidak perlu.
c. Dilarang menggunakan alat atau cara berperang yang, atau dapat diharapkan akan menyebabkan kerusakan luas (hebat) berjangka panjang terhadap lingkungan hidup.
Hanya ada satu pasal yang mengatur alat berperang, yaitu pasal 36. apabila suatu Negara mengadakan studi, mengembangkan atau menyetujui untuk menggunakan suatu senjata baru atau cara berperang yang baru, Negara tersebut diharuskan menentukan apakah penggunaannya akan dilarang oleh protocol ini atau ketentuan lain dari hokum internasional yang berlaku bagi Negara tersebut. ,aksud dari pasl ini barang tentu untuk mencegah jangan sampai Negara peserta protocol mengembangkan senjata yang dilarang oleh protocol ini.

Namun, manfaat pasal ini data diragukan mengingat bahwa:
a. Yang menentukan apakah senjata itu termasuk senjata terlarang atau tidak adalah Negara yang memiliki senjata sendiri;
b. Tidak ada sanksi bila Negara yang bersangkutan tidak memenuhi ketentuan tersebut.

Hal inilah yang menyebabkan mengapa saat terjadi perang Vietnam dengan melibatkan senjata-senjata berbahaya seperti napalm, agen orange, serta peralatan berbahaya lainnya dunia Internasional tidak menuntut kejahatan perang yang dilakukan. Barulah setelah dampak dari senjata-senjata berbahaya itu nampak, akan berlaku hukum hak asasi manusia.

Baca Artikel Lainnya: