Dinilai Belum Optimal dan Kurang Tepat Sasaran, Ini Saran Untuk LPDP

Home / Pendidikan / Dinilai Belum Optimal dan Kurang Tepat Sasaran, Ini Saran Untuk LPDP

Dinilai Belum Optimal dan Kurang Tepat Sasaran, Ini Saran Untuk LPDP

Dinilai Belum Optimal dan Kurang Tepat Sasaran, Ini Saran Untuk LPDP

Dinilai Belum Optimal dan Kurang Tepat Sasaran, Ini Saran Untuk LPDP

Dinilai Belum Optimal dan Kurang Tepat Sasaran, Ini Saran Untuk LPDP

Presiden Joko Widodo berharap agar kepada semua pihak untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) usia produktif dengan baik. Oleh sebab itu perlu menyiapkan sebanyak mungkin SDM terbarukan.

“Perlu terobosan program untuk mencetak SDM terbarukan, baik teknologi tepat guna lewat penataan pendidikan vokasi yang lebih sesuai dengan usaha rakyat dan kondisi pasar. Sedangkan untuk mencetak SDM teknologi yang tergolong hi-tech perlu reorientasi atau peninjauan kembali program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP),” ujar Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE), Bimo Joga Sasongko dalam menyikapi kondisi pendidikan di Indonesia saat ini.

Menurut Bimo, saat ini LPDP mengelola dana abadi untuk pendidikan senilai triliunan rupiah.

Sedangkan reorientasi pada intinya penambahan program dan pengalokasian dana untuk pengiriman lulusan SMA/SMK berbakat untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi luar negeri dalam prodi teknologi tinggi. Karena prodi tersebut belum ada atau kurang memadai pada perguruan tinggi di dalam negeri.

“Perlu terobosan memberikan beasiswa ikatan dinas bagi siswa berprestasi dari sekolah menengah untuk belajar di luar negeri. LPDP yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 2 tahun 2010 tentang Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) mestinya menjadi ujung tombak dalam mencetak SDM terbarukan sejak usia belia. Program beasiswa luar negeri LPDP selama ini hanya fokus untuk program S-2 dan S-3. Hal itu kurang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan kurang efektif mencetak SDM tenologi berkelas dunia. Sehingga masyarakat melihat LPDP kini dalam kondisi quo vadis,” saran Bimo yang juga pendiri Euro Mangement Indonesia ini.

Mestinya, lanjut Bimo, LPDP mampu menjadi navigator yang bisa membuka jalan bagi anak muda

bangsa untuk menatap kemajuan dan kendalikan revolusi teknologi. Navigator yang mampu mengarahkan lulusan SMA menuju negara-negara maju yang menyediakan pendidikan tinggi terkemuka.

“Sejak LPDP dibentuk, publik melihat kurang adanya rasa keadilan dalam program beasiswa luar negeri. Program yang elitis tersebut cenderung berpihak kepada yang kaya dan orang kota besar karena mereka punya fasilitas dan uang untuk mendapat Letter of Acceptance (LoA) atau conditional letter dari perguruan tinggi luar negeri. Sementara siswa yang kurang mampu atau dari pelosok daerah kesulitan memperoleh LoA. Karena untuk dapatkan itu prosesnya panjang dan membutuhkan dana dan kemampuan bahasa asing yang lebih. Hal ini tentunya memberatkan yang berasal dari daerah dan keluarga tidak mampu,”ungkapnya.

Mestinya kata Bimo, LPDP meniru program beasiswa yang bernuansa affirmatif action

yang pernah dijalankan oleh Menristek BJ.Habibie pada tahun 80-an yang berhasil mengirimkan sekitar 2 ribu pemuda dari berbagai kalangan dan tingkatan sosial untuk belajar ke luar negeri.

Dalam program Habibie tersebut, siapapun, baik orang kota atau desa, kaya atau miskin bisa ikut tahapan seleksi beasiswa ikatan dinas. Kemudian kalau mereka lolos seleksi akademis mereka dibantu proses mendapatkan LoA dan kemahiran berbahasa asing. Hal itu adalah tugas pemerintah melalui kerjasama dengan konsultan pendidikan internasional.

Setelah itu baru dikuatkan dengan ikatan dinas sebelum mereka berangkat ke LN. Substansi surat ikatan dinas juga sangat jelas, termasuk penempatan dan kewajiban setelah lulus pada lembaga pemerintah maupun BUMN industri strategis. Semua sudah diarahkan sangat detail dan sistemik sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa.

“Arah dan sasaran LPDP perlu segera direvisi agar bisa optimal mengarahkan segenap usahanya guna mencetak pemimpin masa depan yang inovatif dan tersebar di berbagai lini kebangsaan,” tukasnya.

 

Baca Juga :