Cybercrime atau Bukan

Home / Teknologi / Cybercrime atau Bukan

Cybercrime atau Bukan

Cybercrime atau Bukan

Cybercrime atau Bukan

Cybercrime atau Bukan

Tidak semua cybercrime dapat langsung dikatagorikan sebagai kejahatan dalam artian
yang sesungguhnya. Ada pula jenis kejahatan yang masuk dalam “wilayah abu-abu”.
Salah satunya adalah probing atau portscanning. Ini adalah sebutan untuk semacam
tindakan pengintaian terhadap sistem milik orang lain dengan mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya dari sistem yang diintai, termasuk sistem operasi yang digunakan,
port-port yang ada, baik yang terbuka maupun tertutup, dan sebagainya. Kalau
dianalogikan, kegiatan ini mirip dengan maling yang melakukan survey terlebih dahulu
terhadap sasaran yang dituju. Di titik ini pelakunya tidak melakukan tindakan apapun
terhadap sistem yang diintainya, namun data yang ia dapatkan akan sangat bermanfaat
untuk melakukan aksi sesungguhnya yang mungkin destruktif.
Juga termasuk kedalam “wilayah abu-abu” ini adalah kejahatan yang berhubungan
dengan nama domain di internet. Banyak orang yang melakukan semacam kegiatan
“percaloan” pada nama domain dengan membeli domain yang mirip dengan merek
dagang atau nama perusahaan tertentu dan kemudian menjualnya dengan harga tinggi
kepada pemilik merk atau perusahaan yang bersangkutan. Kegiatan ini diistilahkan
sebagai cybersquatting. kegiatan lain yang hampir mirip dikenal sebagai typosquatting,
yaitu membuat nama domain “pelesetan” dari domain yang sudah populer. Para pelaku
typosquatting berharap dapat mengeduk keuntungan dari pengunjung yang tersasar ke
situsnya karena salah mengetik nama domain yang dituju pada browsernya.
Selain tindak kejahatan yang membutuhkan kemampuan teknis yang memadai, ada juga
kejahatan yang menggunakan internet hanya sebagai sarana. Tindak kejahatan semacam
kejahatan semacam ini adalah carding, yaitu pencurian nomor kartu kredit milik orang
lain untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di internet. Juga pemanfaatan media
internet (webserver, mailing list) untuk menyebarkan material bajakan.
Pengiriman email anonim yang berisi promosi (spamming) juga dapat dimasukkan dalam
contoh kejahatan yang menggunakan internet sebagai sarana. Di beberapa negara maju,
para pelaku spamming (yang diistilahkan sebagai spammer) dapat dituntut dengan
tuduhan pelanggaran privasi.
Jenis-jenis cybercrime maupun kejahatan yang menggunakan internet sebagai sarana
ditengarai akan makin bertambah dari waktu ke waktu, tidak hanya dari segi jumlah
maupun kualitas, tetapi juga modusnya. Di beberapa negara maju dimana internet sudah
sangat memasyarakat, telah dikembangkan undang-undang khusus yang mengatur
tentang cybercrime. UU tersebut, yang disebut sebagai Cyberlaw, biasanya memuat
regulasi-regulasi yang harus dipatuhi oleh para pengguna internet di negara bersangkutan,
lengkap dengan perangkat hukum dan sanksi bagi para pelanggarnya.
Namun demikian, tidak mudah untuk bisa menjerat secara hukum pelaku cybercrime.
Tidak seperti internet yang tidak mengenal batasan negara, maka penerapan cyberlaw
masih terkendala oleh batasan yurisdiksi. Padahal, seorang pelaku tidak perlu berada di
wilayah hukum negara bersangkutan untuk melakukan aksinya.
Sebagai contoh, bagaimana cara untuk menuntut seorang hacker, katakanlah
berkebangsaan Portugal, yang membobol sebuah situs Indonesia yang servernya ada di
Amerika Serikat, sementara sang hacker sendiri melakukan aksinya dari Australia.
Lantas, perangkat hukum negara mana yang harus digunakan untuk menjeratnya? Belum
lagi adanya banyaknya “wilayah abu-abu” yang sulit dikatagorikan apakah sebagai
kejahatan atau bukan, membuat Cyberlaw masih belum dapat diterapkan dengan
Sumber : https://bingo.co.id/