Banyak Omong’ untuk Bantu Tingkatkan Kecerdasan Anak

Home / Umum / Banyak Omong’ untuk Bantu Tingkatkan Kecerdasan Anak

Banyak Omong’ untuk Bantu Tingkatkan Kecerdasan Anak

Banyak Omong’ untuk Bantu Tingkatkan Kecerdasan Anak

Banyak Omong’ untuk Bantu Tingkatkan Kecerdasan Anak

Banyak Omong’ untuk Bantu Tingkatkan Kecerdasan Anak

 

Jakarta, Selain motorik halus dan kasar

kecerdasan anak juga dipengaruhi kemampuan melihat, mendengar, bicara, dan berbahasa yang prosesnya dimulai sejak anak di dalam kandungan. Nah, oleh karena itu, setelah anak lahir, janganlah menjadi orang tua yang pendiam.

“Pendengaran dan penglihatan yang normal mempengaruhi kemampuan bicara dan berbahasa yang merupakan pintu gerbang kecerdasan. Setelah pendengaran dan penglihatan normal, beri input berupa kata-kata. Makanya jangan jadi orang tua yang pendiam, tapi banyak omong” papar ketua divisi tumbuh kembang RSUD Dr.Soetmomo dan FK Universitas Airlangga Surabaya, Dr dr Ahmad Suryawan, SpA(K) di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (13/12/2013).

Dokter yang akrab disapa dr Wawan

ini mengatakan, di otak anak ada area yang bertindak sebagai bank untuk menyimpan kosakata yang berasal dari kata-kata sehari-hari. Kata-kata tersebut, menurut dr Wawan berasal dari omongan orang tua, pengasuh, atau orang di sekitar si anak. Ketika anak mendengar kosakata tersebut, bagian otak akan menyimpannya.

“Setiap kata yang masuk tiap hari, otak makin penuh, saat tidak bisa menampung, kata tersebut akan ditransfer ke bagian otak lain. Kalau pendengarannya normal tapi enggak ada input berupa omongan ya sama aja bohong. Kata yang disimpan di otak nggak cuma untuk komunikasi saja tapi juga untuk kecerdasan dan perilakunya,” tambah dr Wawan.

 

Hal itu ia sampaikan dalam Media Edukasi

Kemampuan Bicara-Bahasa, Awal Kecerdasan dan Perilaku Anak’ hasil kerjasama UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI dan Kalbe-Morinaga.

dr Wawan menegaskan, terutama untuk para ayah, janganlah jadi orang tua yang pelit omong. Misalnya, ketika pulang kerja ayah membelikan mainan anak, lantas si anak senang, ayah justru tidak menemani si anak bermain. Padahal ayah juga bisa memberi input dengan ia membelikan mainan pada anaknya.

“Beri tahu itu mainan apa, warnanya apa, jumlahnya berapa. Dengan begitu dia akan tahu warna, bentuk, dan angka dari mulut kita (orang tua) sendiri. Jangan lupa juga matikan HP, sehingga ada waktu bagi orang tua berinteraksi,” jelas dr Wawan.

Ia menambahkan, insiden kasar dari kasus yang sering ditangani dr Wawan, 90 persen anak mengalami gangguan bicara dan berbahasa karena ada masalah pada input yang diberikan. “Kalau begitu, caranya kita dudukkan orang tuanya, kita beri wejangan gimana memberi input yang baik dan benar,” kata dr Wawan.

Baca Juga :